JAKARTA – Di tengah keberagaman Indonesia yang kaya, Komisi VIII DPR RI dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menyerukan pentingnya persatuan umat dan kewaspadaan terhadap upaya provokasi yang menggunakan isu agama.
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, mengingatkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju jika mampu mengelola perbedaan dengan bijak.
“Keunikan Indonesia dengan ribuan suku bangsa dan bahasa adalah anugerah yang tak ternilai,” ujarnya.
“Namun, perbedaan ini bisa menjadi bencana jika tidak dikelola dengan baik, terutama dengan adanya oknum yang ingin memecah belah bangsa,” imbuhnya.
Singgih Januratmoko meminta masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh berita bohong atau fitnah di media sosial yang bertujuan untuk mengadu domba umat Islam.
“Selama masih dalam lingkup Ahlussunnah wal Jama’ah dan berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadis, perbedaan pandangan jangan dipermasalahkan,” tegasnya.
Senada dengan Singgih Januratmoko, Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menekankan bahwa perbedaan pandangan dalam beragama adalah hal yang wajar.
“Jangan memperlebar jurang perbedaan. Kita harus bersatu dalam perbedaan, menjunjung tinggi Pancasila, UUD 1945, dan menghargai kebhinnekaan,” ungkapnya.
KH Chriswanto Santoso juga mengingatkan tentang bahaya penyebaran doktrin agama di ruang publik atau media sosial yang dapat memicu perpecahan.
“Pelaku penyebaran ini memiliki itikad tidak baik, yaitu ingin memecah belah bangsa,” tegasnya.
Di bulan Ramadan ini, kedua tokoh tersebut mengajak masyarakat dan pemuka agama untuk lebih bijak dalam menanggapi informasi di media sosial.
“Dalam masyarakat madani, tidak mungkin sesama ormas menindas ormas lainnya atas nama agama,” ungkap KH Chriswanto Santoso.
“Kebenaran yang dipaksakan oleh mayoritas dapat melahirkan kekerasan terhadap minoritas, dan ini bertentangan dengan nilai-nilai agama dan Pancasila,” terusnya.
Seruan ini diharapkan dapat memperkuat persatuan umat dan mencegah terjadinya konflik yang dapat merusak keharmonisan bangsa. (Red)