SURABAYA – Surabaya gempar! Aliansi Madura Indonesia (AMI) baru saja melancarkan serangan frontal terhadap dunia pendidikan Kota Pahlawan. Dalam audiensi panas dengan Dinas Pendidikan, AMI membongkar dugaan ketidakberesan pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang menjadi sorotan utama.
Baihaki Akbar, sang Ketua Umum AMI, dengan lantang menyuarakan keresahan masyarakat. Laporan demi laporan masuk ke mejanya, mengindikasikan adanya permainan kotor di balik kucuran dana yang seharusnya menyejahterakan siswa.
“Dana BOS ini hak anak-anak kita, jangan sampai diselewengkan,” tegasnya.
Praktik penjualan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang haram hukumnya pun tak luput dari kecaman. “Oknum-oknum nakal harus ditindak tegas, kalau perlu dipecat,” serunya.
Namun, bukan hanya soal uang yang membuat AMI berang. Bayang-bayang perundungan (bullying) yang menghantui sekolah-sekolah Surabaya juga menjadi perhatian serius. Baihaki tak ingin sekolah menjadi arena neraka bagi para siswa.
“Sekolah harus jadi tempat yang aman dan nyaman, bukan tempat anak-anak saling mencakar,” ujarnya dengan nada prihatin.
Dinas Pendidikan Kota Surabaya, yang diwakili oleh Sekretaris Dinas, Putri, tak tinggal diam. Mereka berjanji akan mengusut tuntas setiap laporan penyelewengan dana dan memperketat pengawasan untuk mencegah perundungan.
“Kami berkomitmen untuk menjaga integritas dunia pendidikan Surabaya,” tegas Putri.
Audiensi ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah deklarasi perang terhadap segala bentuk kecurangan dan kekerasan di sekolah-sekolah Surabaya.
AMI berjanji akan terus mengawal setiap kebijakan pendidikan, memastikan bahwa setiap rupiah dana BOS sampai ke tangan yang tepat dan setiap siswa mendapatkan perlindungan maksimal.
“Kami ingin pendidikan Surabaya menjadi contoh bagi daerah lain. Pendidikan yang bersih, transparan, dan aman bagi semua anak,” pungkas Baihaki, menutup audiensi dengan optimisme. (Red)