Beranda Daerah Perkuat Solidaritas Pedagang Bojonegoro, PKL Budal Makmur Siapkan Agenda Rutin

Perkuat Solidaritas Pedagang Bojonegoro, PKL Budal Makmur Siapkan Agenda Rutin

BOJONEGORO – Komunitas Pedagang Kaki Lima (PKL) Budal Makmur (BM) mulai memperkuat fondasi organisasi dengan membentuk kepengurusan baru.

Melalui musyawarah yang berlangsung di kediaman Ayik, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, para pedagang sepakat membangun komunitas yang lebih solid, tertata dan mampu memperjuangkan aspirasi anggotanya.

Pertemuan pada Selasa (20/10/2026) tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi.

Musyawarah ini juga menjadi langkah strategis untuk mempererat persaudaraan antar pedagang, memperbaiki koordinasi, serta merumuskan arah organisasi agar semakin bermanfaat bagi seluruh anggota.

Dalam hasil musyawarah, Ayik dipercaya menjabat sebagai ketua PKL Budal Makmur, Eko sebagai wakil ketua dan Bu Naff sebagai sekretaris.

Susunan kepengurusan baru ini diharapkan mampu menjadi motor penggerak komunitas sekaligus menjembatani komunikasi antara anggota dalam menghadapi berbagai persoalan usaha.

Pembentukan kepengurusan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun organisasi yang memiliki arah dan pembagian tanggung jawab yang lebih jelas.

Dengan struktur tersebut, setiap kegiatan komunitas diharapkan dapat berjalan lebih terkoordinasi, sementara aspirasi para pedagang bisa dibahas melalui mekanisme musyawarah.

Koordinator sekaligus penanggung jawab PKL Budal Makmur, M. Ali Syafaat, turut mendorong terbentuknya kepengurusan baru sebagai upaya memperkuat fondasi komunitas.

Menurut semangat yang dibangun dalam pertemuan tersebut, keberadaan organisasi sebagai ruang komunikasi untuk membahas kebutuhan anggota, mencari solusi atas kendala di lapangan, serta menjaga hubungan baik di antara para pedagang.

Saat ini, PKL Budal Makmur menaungi sekitar 40 pedagang, mereka merupakan bagian dari pelaku usaha kecil yang turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat dan mengandalkan kegiatan berdagang sebagai sumber penghidupan keluarga.

Dengan jumlah anggota tersebut, kekompakan dan komunikasi yang terbuka menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan komunitas.

Perbedaan pandangan maupun persoalan yang muncul diharapkan dapat diselesaikan melalui dialog tanpa mengesampingkan kepentingan bersama.

Salah satu poin yang dibahas dalam musyawarah adalah rencana mengadakan pertemuan rutin setiap satu bulan sekali.

Agenda ini diharapkan menjadi sarana evaluasi sekaligus ruang bagi anggota untuk menyampaikan usulan, membahas perkembangan komunitas dan mengidentifikasi persoalan yang membutuhkan penyelesaian bersama.

Melalui pertemuan berkala, komunikasi antaranggota diharapkan tidak hanya terjalin ketika muncul masalah.

Sebaliknya, hubungan yang intensif dapat membantu membangun rasa saling percaya, meningkatkan partisipasi, serta memperkuat komitmen dalam menjalankan keputusan organisasi.

Keterlibatan aktif setiap pedagang juga menjadi faktor penting agar kepengurusan baru tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi benar-benar mampu mengakomodasi kebutuhan anggota.

Selain memperkuat hubungan internal, PKL Budal Makmur berharap dapat membangun komunikasi yang lebih baik dengan pemerintah dan pihak terkait.

Sinergi tersebut dinilai penting untuk membuka ruang dialog mengenai keberadaan pedagang kaki lima, penataan kegiatan usaha, ketertiban, serta kenyamanan lingkungan.

Komunikasi yang terbangun dengan baik diharapkan dapat membantu menciptakan hubungan yang saling mendukung antara pedagang, masyarakat, dan pemangku kepentingan.

Dengan pendekatan dialogis, berbagai persoalan yang berkaitan dengan aktivitas PKL diharapkan bisa dibicarakan secara terbuka sehingga menghasilkan solusi yang dapat diterima bersama.

Komunitas ini juga memperoleh dukungan dari EFOS Indonesia (Energy For Synergy), yang dipimpin Erwanto.

Dukungan tersebut sejalan dengan semangat memperluas kolaborasi, memperkuat hubungan antarpelaku usaha, dan menciptakan lingkungan usaha yang kondusif.

Erwanto menilai musyawarah memiliki peran penting dalam menjaga kebersamaan sekaligus memperkuat hubungan persaudaraan di antara para pedagang.

Menurutnya, pertemuan rutin dapat dimanfaatkan untuk bertukar gagasan, menyampaikan aspirasi, serta mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi komunitas.

“Melalui musyawarah ini, kami berharap PKL Budal Makmur semakin guyub, rukun, solid, dan kompak. Dengan komunikasi yang baik, setiap persoalan dapat dibicarakan secara terbuka dan diselesaikan melalui kesepakatan bersama. Kami juga berharap komunitas ini dapat membangun sinergi dengan pemerintah serta pihak terkait, sehingga keberadaan PKL dapat berkembang secara tertib dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Erwanto.

Dia menambahkan, kekuatan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh susunan pengurus, tetapi juga oleh komitmen seluruh anggota dalam menjaga kepercayaan, menjalankan tanggung jawab, dan menaati kesepakatan yang telah dibuat bersama.

Karena itu, kepengurusan baru diharapkan mampu merangkul seluruh anggota tanpa membedakan kepentingan masing-masing.

Semangat gotong royong dan keterbukaan perlu terus dijaga agar organisasi dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan.

Pembentukan kepengurusan baru dan rencana pertemuan bulanan menjadi langkah awal PKL Budal Makmur untuk memperkuat tata kelola organisasi.

Tantangan berikutnya adalah memastikan kesepakatan dalam musyawarah dapat diterapkan melalui kegiatan nyata yang memberikan manfaat bagi para anggota.

Dengan dukungan M. Ali Syafaat selaku koordinator dan penanggung jawab, jajaran pengurus baru, seluruh anggota, serta EFOS Indonesia, komunitas ini diharapkan semakin aktif membangun komunikasi dan membuka peluang kerja sama yang positif.

Pada akhirnya, kekompakan menjadi modal penting bagi sekitar 40 pedagang yang tergabung dalam PKL Budal Makmur.

Organisasi yang tertata, komunikasi yang terbuka dan sinergi dengan berbagai pihak diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan usaha yang harmonis, tertib, serta memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat di Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. (aj)

Artikel sebelumyaSakral dan Penuh Makna, Prosesi Api Abadi Warnai HJB Bojonegoro ke-349
Artikel berikutnyaHJB ke-349 Bojonegoro Jadi Momentum Perubahan, Ini Deretan Capaian yang Terungkap