BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mulai menggelar Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Pemeriksaan yang berlangsung mulai Selasa (6/10/2026) ini menjadi langkah deteksi dini terhadap berbagai risiko penyakit.
Program CKG bagi ASN Pemkab Bojonegoro dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, yakni 6-8 Oktober 2026.
Sementara ASN yang berada di lingkungan kecamatan akan mengikuti pemeriksaan pada 2-12 November 2026.
Pelaksanaan program tersebut merupakan tindak lanjut Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Program Nasional Pemerintah Republik Indonesia, sekaligus mengacu pada Surat Edaran Bupati Bojonegoro Nomor 440/357/412.202/2026 tertanggal 23 Januari 2026 tentang Cek Kesehatan Gratis di Kabupaten Bojonegoro.
Tenaga kesehatan, Nuning, mengatakan pemeriksaan CKG kali ini mencakup sejumlah komponen penting.
Peserta tidak hanya menjalani pemeriksaan dasar, tetapi juga skrining untuk mengetahui potensi gangguan kesehatan sejak awal.
“Kalau cek kesehatan kali ini sedikit berbeda. Ada pemeriksaan kolesterol, trigliserida (TG), LDL, HDL, gula darah, hemoglobin, kemudian ada pemeriksaan IVA dan HPV DNA bagi perempuan,” jelas Nuning.
Pemeriksaan profil lemak darah mencakup LDL, HDL dan trigliserida.
LDL perlu diperhatikan karena kadar yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko penumpukan plak pada pembuluh darah.
Sebaliknya, HDL berperan membantu membawa kolesterol dari aliran darah menuju hati untuk diproses.
Sementara pemeriksaan gula darah dilakukan untuk mengetahui kadar glukosa, sedangkan hemoglobin dapat menjadi salah satu indikator kondisi sel darah merah dan membantu mendeteksi kemungkinan anemia.
Peserta juga menjalani pengukuran tinggi badan, berat badan, serta lingkar perut.
Data tersebut dapat digunakan untuk melihat kondisi tubuh sekaligus mengidentifikasi sejumlah faktor risiko kesehatan.
Tak berhenti di sana, CKG juga mencakup pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) untuk merekam aktivitas listrik jantung.
Pemeriksaan feses turut dilakukan sebagai bagian dari skrining untuk membantu mengetahui adanya gangguan atau kelainan tertentu pada saluran pencernaan.
Khusus peserta perempuan, tersedia pemeriksaan IVA dan HPV DNA sebagai bagian dari deteksi dini risiko kanker serviks.
Pemeriksaan IVA dilakukan menggunakan larutan asam asetat pada leher rahim untuk melihat perubahan jaringan yang dapat menjadi tanda awal lesi prakanker.
Sementara tes HPV DNA dilakukan untuk mendeteksi keberadaan DNA human papillomavirus (HPV), yang merupakan salah satu faktor utama terkait kanker serviks.
Perempuan yang belum menikah juga tetap dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai berbagai persoalan kesehatan perempuan sesuai kebutuhan.
Salah satu peserta CKG dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bojonegoro, Lailatul Afifa, mengaku baru pertama kali mengikuti pemeriksaan IVA dan HPV DNA.
Ia sempat merasa tegang sebelum menjalani pemeriksaan.
Namun, kekhawatiran tersebut berkurang setelah mengetahui bahwa peserta juga bisa mendapatkan konsultasi mengenai kesehatan perempuan.
“Ini pertama kali saya melakukan pemeriksaan IVA dan HPV DNA. Awalnya agak tegang karena melihat proses pemeriksaannya. Tetapi ternyata bisa sekaligus konsultasi mengenai masalah kewanitaan,” ungkapnya.
Menurutnya, hasil pemeriksaan IVA dapat diketahui secara langsung.
Sementara hasil pemeriksaan HPV DNA dijadwalkan dapat diambil pada bulan berikutnya.
Melalui CKG tersebut, Pemkab Bojonegoro mendorong ASN untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan dan tidak menunggu munculnya keluhan sebelum melakukan pemeriksaan.
Deteksi lebih awal diharapkan dapat membantu mengetahui faktor risiko penyakit sehingga langkah penanganan maupun pencegahan bisa dilakukan lebih cepat. (aj)












