Beranda Daerah Kajian Ustaz Rifky di Kedungadem Bojonegoro Ramai, Bahas Al-Fatihah hingga Bahaya Fanatisme

Kajian Ustaz Rifky di Kedungadem Bojonegoro Ramai, Bahas Al-Fatihah hingga Bahaya Fanatisme

BOJONEGORO – Ribuan jamaah memadati Masjid Nurul Yaqin, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, saat menghadiri pengajian Ustaz Rifky Ja’far Thalib, Minggu (18/10/2026).

Tingginya antusiasme masyarakat membuat sebagian peserta harus mengikuti kajian dari luar area masjid.

Pengajian tersebut tidak hanya menjadi ajang menimba ilmu agama, tetapi juga momentum untuk merenungkan kembali makna ibadah, memperkuat keimanan dan memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Sejumlah tema penting menjadi pembahasan, mulai dari tujuan manusia beribadah kepada Allah, keutamaan selawat kepada Nabi Muhammad saw., kandungan Surah Al-Fatihah, Asmaulhusna, persiapan menghadapi akhirat, hingga pentingnya menjaga kemurnian tauhid dan menghindari fanatisme kelompok secara berlebihan.

Pesan-pesan tersebut mengingatkan bahwa keberagamaan bukan hanya menjalankan ritual atau memperbanyak pengetahuan.

Nilai-nilai Islam juga perlu tercermin dalam kejujuran, tanggung jawab, kepedulian sosial, serta sikap bijaksana ketika menghadapi perbedaan.

Salah satu landasan penting dalam kehidupan seorang muslim adalah tujuan penciptaan manusia sebagaimana tercantum dalam Surah Az-Zariyat ayat 56.

Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya‘budun.

Artinya, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Ayat tersebut menegaskan kedudukan ibadah sebagai bagian mendasar dalam kehidupan manusia.

Namun, pengamalan nilai-nilai agama juga perlu terlihat dalam aktivitas sehari-hari.

Menjaga amanah, bekerja secara jujur, membantu orang yang membutuhkan, memenuhi tanggung jawab keluarga dan berbuat baik kepada sesama merupakan contoh perilaku yang dapat bernilai ibadah apabila disertai niat yang benar dan dilakukan sesuai tuntunan agama.

Dengan demikian, kesalehan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas di masjid.

Perilaku seseorang di rumah, lingkungan kerja dan tengah masyarakat juga menjadi bagian penting dalam mencerminkan nilai-nilai Islam.

Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, juga menjadi salah satu tema penting dalam pembelajaran agama.

Membaca sholawat merupakan bentuk doa dan penghormatan kepada Rasulullah.

Namun, kecintaan kepada beliau idealnya juga diwujudkan melalui upaya meneladani akhlak dan ajarannya.

Sikap jujur, amanah, sabar, adil, serta menyayangi sesama merupakan nilai-nilai yang penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sholawat dengan demikian bukan hanya amalan lisan, melainkan juga pengingat agar umat Islam terus memperbaiki perilaku dan menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai pedoman dalam membangun hubungan dengan sesama manusia.

Surah Al-Fatihah memiliki kedudukan penting dalam kehidupan umat Islam karena dibaca pada setiap rakaat salat.

Di dalamnya terdapat permohonan agar Allah menunjukkan manusia ke jalan yang lurus.

Permohonan tersebut mengandung pengingat bahwa manusia senantiasa membutuhkan petunjuk dan bimbingan Allah dalam menjalani kehidupan.

Pengetahuan agama yang dimiliki seseorang seharusnya tidak membuatnya merasa paling benar atau mudah merendahkan orang lain.

Sebaliknya, ilmu perlu mendorong seseorang untuk semakin rendah hati, memperbaiki diri, dan berhati-hati dalam menilai sesama.

Introspeksi juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Sebelum menunjukkan kekurangan orang lain, setiap muslim perlu mengevaluasi sejauh mana pengetahuan agama yang dimilikinya telah diwujudkan dalam tindakan nyata.

Pembahasan mengenai Asmaul Husna turut memperkaya materi pengajian.

Nama-nama Allah yang indah mengajarkan umat Islam untuk mengenal keagungan dan kesempurnaan nya berdasarkan Al-Qur’an dan sunah.

Mempelajari Asmaul Husna tidak cukup hanya dengan menghafalkan nama-nama Allah.

Memahami maknanya juga dapat membantu memperkuat keimanan dan membangun kesadaran untuk menjalani kehidupan secara lebih bertanggung jawab.

Keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui, misalnya, menjadi pengingat agar manusia menjaga kejujuran, termasuk ketika tidak ada orang lain yang menyaksikan perbuatannya.

Sementara itu, pemahaman tentang rahmat Allah dapat menjadi dorongan untuk menumbuhkan kasih sayang, kepedulian dan sikap saling membantu di tengah masyarakat.

Dengan begitu, pengetahuan mengenai Asmaul Husna diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi turut membentuk perilaku dan kepribadian yang lebih baik.

Salah satu persoalan yang perlu disikapi secara bijaksana dalam kehidupan beragama adalah fanatisme kelompok yang berlebihan.

Perbedaan organisasi Islam, mazhab dan pandangan keagamaan merupakan bagian dari kenyataan sosial.

Karena itu, umat Islam perlu mengedepankan kedewasaan, keterbukaan dalam belajar, serta penghormatan terhadap sesama.

Identitas kelompok tidak seharusnya membuat seseorang menolak suatu penjelasan hanya karena berasal dari pihak yang berbeda.

Begitu pula, perbedaan pandangan tidak semestinya dijadikan alasan untuk merendahkan atau memusuhi orang lain.

Dalam memahami persoalan agama, umat Islam perlu merujuk pada dalil serta penjelasan ulama yang memiliki kompetensi.

Sikap kritis tetap penting, tetapi harus disertai adab, kehati-hatian, dan tanggung jawab.
Menjaga persaudaraan bukan berarti mengabaikan prinsip agama.

Sebaliknya, perbedaan perlu dihadapi dengan kebijaksanaan agar tidak berkembang menjadi konflik dan permusuhan.

Pengetahuan agama semestinya membantu seseorang bersikap lebih arif, bukan menumbuhkan kesombongan atau perasaan bahwa dirinya paling benar.

Tauhid menjadi dasar utama ajaran Islam, yakni mengesakan Allah dalam ketuhanan dan ibadah.

Pemahaman mengenai tauhid karena itu perlu terus diperkuat melalui pembelajaran yang benar.

Dalam membahas persoalan akidah, termasuk syirik besar dan syirik kecil, umat Islam perlu memahami dalil dan penjelasan ulama secara cermat.

Penilaian terhadap keyakinan atau tindakan seseorang tidak sepatutnya dilakukan secara sembarangan tanpa pengetahuan yang memadai.

Pemahaman tauhid idealnya mendorong setiap muslim untuk meluruskan niat, memperbaiki keyakinan, dan meningkatkan kualitas ibadah.

Prinsip tersebut tidak semestinya dijadikan alasan untuk mudah memberikan cap negatif kepada orang lain.

Selain itu, keimanan terhadap kehidupan akhirat menjadi pengingat bahwa kesempatan hidup perlu dimanfaatkan untuk memperbanyak kebaikan.

Persiapan menghadapi akhirat dapat diwujudkan melalui penguatan iman, pelaksanaan kewajiban agama, pertobatan, serta perbaikan hubungan dengan sesama manusia.

Ilmu dan amal perlu berjalan beriringan, pengetahuan memberikan pemahaman mengenai tuntunan agama, sedangkan pengamalan menunjukkan kesungguhan seseorang dalam menjalankannya.

Pengajian Ustaz Rifky Ja’far Thalib di Masjid Nurul Yaqin Kedungadem menjadi momentum untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus merenungkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Antusiasme ribuan jamaah menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap kegiatan keagamaan.

Namun, manfaat pengajian tidak hanya ditentukan oleh banyaknya peserta yang hadir, melainkan juga oleh sejauh mana pesan yang disampaikan dapat diterapkan setelah kegiatan berakhir.

Ibadah perlu tercermin dalam tanggung jawab. Selawat perlu berjalan bersama upaya meneladani Rasulullah.

Pengetahuan tentang Al-Qur’an dan Asmaulhusna perlu mendorong perbaikan akhlak, sedangkan pemahaman tauhid perlu disertai sikap bijaksana dalam menyikapi perbedaan.

Pada akhirnya, keberagamaan bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang didengar atau seberapa sering seseorang menghadiri pengajian.

Nilai-nilai agama juga perlu hadir melalui kejujuran, kepedulian sosial, kerendahan hati dan kemampuan menjaga persaudaraan.

Dari Masjid Nurul Yaqin Kedungadem, pesan penting yang dapat direnungkan adalah bahwa ilmu agama akan semakin bermakna ketika tidak hanya dipelajari dan dipahami, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. (aj)

Artikel sebelumyaPerjusa MI Al Fithrah di Mojokerto Latih Kemandirian Santri
Artikel berikutnyaInfo Cuaca Bojonegoro Senin 19 Oktober: Cerah Seharian